How to reduce medical errors?

Written by Dr. Adji Hoesodo

Kesalahan medis makin banyak disorot di Indonesia, namun solusi untuk tindakan memperbaiki ketinggalan jauh. Kesalahan yang terjadi dalam praktek medis tidak mungkin dihilangkan seperti kesalahan yang terdapat pada mesin atau computer, karena manusia bukan mesin dan untuk setiap kasus pasien tidak ada duanya yang identik secara lengkap. Suatu kepustakaan yang disebut oleh Atul Gawande, seorang dokter ahli bedah, dalam bukunya berjudul "Complications" menyebutkan, misalnya, bahwa di AS terdapat stastitik dari kasus otopsi (bedah mayat) yang menyebut: dokter gagal mendiagnosa 25 % dari infeksi fatal, sekitar 33% dari serangan jantung, dan hampir dua per tiga dari kasus emboli paru-paru luput terdiagnosa.  Dari kasus otopsi juga terdapat beberapa studi (1998 dan 1999) yang menemukan bahwa 40% yang dicantumkan sebagai sebab kematian ialah tidak benar dan sekitar 1/3 dari ini diperkirakan akan bisa ditolong dengan pengobatan yang memadai. Yang mencengangkan ialah bahwa seorang patolog, George Lundberg di Journal of the American Medical Association, melaporkan bahwa keadaan ini tidak berubah sejak tahun 1938, hingga tahun 1960-70-80an, walaupun sudah terdapat diagnostic imaging yang canggih. Mengapa ini demikian?

Daerah kelabu dalam ilmu kedokteran sangat besar, berbeda dengan teknologi mesin yang diharapkan dapat mencapai zero error. Profesi medik cenderung membuat kesalahan (fallible), namun hanya sebagian kecil yang melalui rantai kejadian yang bersambung akan berakhir dengan cedera pada pasien. Namun, sebagian besar tidak menimbulkan efek buruk pada penderita. Kekeliruan dalam resep dapat bermacam-macam; bayangkan seorang dokter yang diganggu perhatiannya dengan pertanyaan-pertanyaan pasien sewaktu sedang menulis resep cenderung akan membuat kesalahan, yang kadang-kadang berakhir fatal. Tetapi di sini terdapat penjagaan dalam system, yaitu apoteker yang harus melihat kesalahan itu. Bila ragu-ragu, dokterpun bisa di telpon. Saya juga  kadang-kadang di telpon oleh apotek untuk menjelaskan kekeliruan atau ketidakjelasan dalam resep. Reaksi dokterpun harus memadai dan tidak marah. Kewaspadaan juga harus dilakukan oleh pihak pasien yang perlu memperoleh pendidikan tentang kesehatan dan pengobatan yang tidak memihak dan pemerintah harus mempunyai komitmen (berarti pembiayaan) untuk melindungi masyarakat melalui informasi.

Medical errors dapat dibagi dalam beberapa kategori, yaitu misalnya terjadi sekali-sekali atau frekuen, tidak serius dan serius (termasuk kematian), dan preventable atau tidak. Jenisnya juga dapat berbagai macam seperti kesalahan dalam diagnostic, pengobatan, atau tindakan seperti operasi. Yang paling mengerikan ialah bila kesalahan itu disengaja demi memperoleh lebih banyak laba. System harus bisa menjaga dan bereaksi terhadap kesalahan seperti ini, dan mungkin jenis ini yang merupakan medical error yang perlu dikategorikan dalam malpraktek sejati. Misalnya mengoperasi organ secara rutin yang semestinya jelas tidak perlu. Apakah polypharmacy yang sangat mencolok bisa digolongkan dalam kategori ini juga, terutama bila menyebabkan cedera pada pasien?

Keadaan di AS merupakan contoh mengapa gugatan melalui pengadilan tidak membawa hasil yang diharapkan; medical errors tetap terjadi dalam frekuensi tinggi, perselisihan antara yang dirugikan dan dokter serta rumah sakit dapat menjadi laporan media massa yang mengikutkan seluruh masyarakat menjadi emosional, serta ganti-rugi menjadi luar biasa besarnya jika seorang kaya tersangkut. Belum lagi bila terjadi gugatan balik oleh rumah sakit yang merasakan nama baiknya dicemarkan. Penderita sering menggugat mengenai keadaan yang ia tidak kuasai dan penuh dengan teknikalitis yang sulit dimengerti awam maupun ahli hukum. Dokter akan memasang kuda-kuda dengan menjadi defensive dan jangan diharap bahwa ia akan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya  dalam keadaan terjepit. Dokter dan Komite Etik pun enggan melayani pertanyaan mass media. Dengan demikian pembuktian menjadi kusut dan perlu seorang Sherlock Holmes untuk mengetahui situasi sebenarnya. Tidak ada pihak yang bisa dimintai keterangan yang benar, nanti dipengadilan saja jawabnya. Kepercayaan terhadap system kesehatan kita jatuh rendah sekali dan pasien (yang berduit) pergi ke Negara lain untuk mengatasi penyakit yang mungkin remeh. Keadaan sekarang ini memerlukan rekonsiliasi (dalam arti ilmiah dan kebijakan, bukan politik). Semuanya, yaitu kedua (atau ketiga) belah pihak perlu memperoleh persepsi yang benar demi perbaikan keadaan. Karena dokter dan pasien memang saling memerlukan satu sama lain, seperti telah dikemukakan oleh beberapa pihak.

Menghilangkan medical errors tidak mungkin, karena sifat mengobati penderita tidak mungkin ? tidak manjur?  Di lain pihak, pasien perlu diberi kepercayaan yang lebih besar di tangan seorang dokter. Profesi perlu melakukan perbaikan kesalahan dalam system (yang memang rawan); peraturan yang bijak perlu dibuat oleh Menteri Kesehatan dan IDI dan diberlakukan. Jelaslah, yang berwajib tidak boleh membiarkannya, dan perlu mengambil keputusan yang strategis terhadap keadaan kronis ini secepatnya karena merupakan prioritas. Kita memerlukan action plans tertulis yang jelas, dilaksanakan serta diukur (bukan terukur saja, yang merupakan istilah pasif dan tidak jelas siapa yang mengukur) hasilnya.

Dokter tidak suka menceritakan kesalahan dirinya kepada pasien secara terbuka; ini merupakan fakta di manapun. Namun kita ketahui bahwa diantara dokter sendiri terjadi cerita-cerita yang mengasyikkan; mereka dengan mudah bertutur tentang kesalahan yang telah dibuatnya pada kasus si X,  isi cerita ini kadang2 bocor keluar, tapi sebagian besar tersimpan dalam empedunya. Perawat lebih gampang bercerita tentang dokter, tapi ini pun tidak terjadi terbuka. Sehingga banyak cerita yang tersimpan dalam "kotak hitam" yang kadang-kadang menjadi gossip. Sifat dokter yang tertutup sebagai kelompok ini dapat dicairkan dalam suatu usaha yang disebut "Morbidity & Mortality Conferences"  (M&M Conferences), yaitu diskusi mengenai kejadian penyakit yang sulit dan kematian yang di luar dugaan, yang sudah berjalan lama sekali di rumah sakit di Amerika hingga kini. Di Indonesia, dahulu , juga dilakukan "Clinico-pathological Conferences" setiap hari Sabtu, dan dihadiri semua staf Fakultas kedokteran, klinik dan non klinik, serta perawat dan mahasiswa, dan dilakukan dalam aula setiap seminggu sekali. Dibuat suatu daftar dari kasus-kasus yang akan dibawakan oleh seorang senior. Semua pembahasan terjadi terbuka dan tidak ada orang yang merasa ? uneasy? bila kasusnya dibicarakan antar profesi sendiri. Inikarena semua sadar bahwa semua orang, termasuk dokter senior dan guru besar, pernah melakukan kesalahan. Juga pada waktu itu gugat-menggugat di pengadilan tidak popular. Conferences ini lama-kelamaan menghilang di Fakultas Kedokteran ternama ini, walaupun secara kecil-kecilan  dilakukan di beberapa bagian yang tertutup untuk stafnya sendiri dan beberapa konsultan dari bagian lain. Tentu banyak hal bisa luput dari pandangan bila kasus sulit tidak dihadiri oleh disiplin lain yang lebih ahli dalam bidangnya yang berhubungan.

Yang penting dari pertemuan berkala ini, ialah bahwa keterbukaan dan "membedah" suatu kasus di kalangan sendiri menciptakan suasana yang kondusif untuk memperbaiki. Tujuannya tidak untuk mencari kesalahan, namun belajar dari kesalahan, untuk menghindarkan tidak berulang. Tidak dilakukan penghakiman, walaupun yang lebih senior perlu membahas ini dengan yang bersangkutan pada kesempatan yang pas. Perbaikan bisa dilakukan dalam system manajemen penderita yang mencegah supaya tidak terjadi kesalahan melalui perbaikan system. Misalnya, mengamputasi kaki yang salah makin kecil kejadiannya setelah sistemnya diperbaiki: dokter yang akan mengoperasi kaki atau lengan diwajibkan menaruh paraf dengan spidol di lengan / kaki yang benar semalam sebelumnya, sehingga kesalahan memotong ekstremitas yang salah tidak terjadi lagi. Ini merupakan Standard Operating Procedure (SOP) yang sederhana, tapi tentu solusi tidak semudah itu untuk macam-macam jenis kesalahan. Suatu kesalahan lain seperti tombol regulator mesin anestesi yang arah putarannya kadang-kadang dibuat terbalik kanan ke kiri yang alat sebelumnya diputar kiri ke kanan, dapat menimbulkan kecelakaan besar. System kemudian diperbaiki dengan mengharuskan semua pabrik memutar regulator tersebut menurut arah kiri ke kanan untuk menyalakannya, idea ini ditemukan oleh seorang tehisian yang melaporkan kepada atasannya yang kemudian membawanya ke dalam konferensi internasional, sehingga semua pabrik tunduk atas standard ini. Polifarmasi yang menimbulkan banyak interaksi berbahaya, misalnya, bisa diperkecil dengan membuat system bahwa dapat ditetapkan 1 (satu) dokter di rumah sakit yang bertanggung jawab mengkoordinasi pemberian obat, sehingga seorang pasien tidak menerima berpuluh-puluh obat sekaligus, terutama yang dibutuhan.

M&M konferensi rupanya penting sekali, dan perlu dilakukan lagi di Indonesia, supaya upaya koreksi-diri terjadi dalam profesi, dan medical errors dapat diperkecil kejadiaannya. Yang tetap menjadi sulit ialah bila kesalahan terjadi secara habitual atau malahan disengaja demi materi. Kelompok ini semoga kecil (tidak ada studi), namun kita bisa mengobservasi bahwa itu benar terjadi.

 

Advertisement

Online Chat

comes_onweb

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

Your IP: 54.196.74.153

Contact

CORRESPONDENCE
Alamanda Tower lt 17 AB,
Thamrin Residences,
Jl. Thamrin Boulevard
Jakarta 10340

CALL :
TEL / FAX:  (021)7522698

CONTACT :
Email : ahoesodo@gmail.com
YM : ahoesodo@yahoo.com

Maaf, tidak melayani konsultasi hukum online