Belajar dari Kematian (2)

Written by Dr. Adji Hoesodo

"Kematian manusia bukanlah akhir dari segala-galanya" inilah kata pembuka dari artikel ke dua mengenai kematian ini. Kenapa hal ini sangat penting saya sampaikan karena banyak anggapan yang salah mengenai persepsi dan psikologi dari kematian itu sendiri.

Di banyak negara di dunia, bahkan di Amerika sendiri, yang mana termasuk negara sekulerdalam memandangan spiritualitas dari fonomena ini, masyarakatnya percaya bahwa ada kehidupan sesudah mati yang kekal dan abadi. Itulah ibarat kalo orang Jawa bilang mudik kampung. Ini mungkin lain kata yang mungkin bisa kita sebut mudik kampung Tuhan atau Kampung akherat. Jadi ibarat kita akan menuju kampung akherat, maka sekarang anggap saja bahwa kita berada di dunia ini lagi melakoni episode hidup yang namanya traveling, shopping maupun episode keduniawian. Dimana kita harus berpikir bahwa jika kita akan kembali ke kampung akherat hendaknya kita akan bertanya pada diri kita bahwa apa sih belanjaan yang bermanfaat bagi kita untuk dibawa ke kampung surga? traveling apa yang mungkin akan dijadikan renungan dan kenangan yang akan diceritakan nanti di kampung akherat nanti? dan yang lebih penting, selama kita menjalani episode keduniawian... apa amal yang sudah kita lakukan?
Jika kita ingat bahwa setiap makhluk akan mengalami kematian dan kita tidak akan dapat lari dari kematian itu sendiri. Dan kita tidak akan pernah tahu di bumi mana kita akan mati, maka kematian akan menjemput kita, walaupun kita akan bangun tembok baja untuk melindungi kita.  Untuk itu sangat penting sekali bahwa dengan mengingat ini kita selalu berpikir untuk hidup cerdas dan selalu melakukan pertobatan yang benar karena dengan fonomena ini orang akan selalu berpikir kelahiran dan kematian setiap harinya.

Memang bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan, percaya bahwa begitu kematian menimpa manusia maka urusan tidak sampai disitu karena masih ada suatu proses yang akan dilaluinya yaitu menuju kampung akherat, di mana amal manusia itu yang akan menentukan di kampung akherat mana yang akan ditempati, baik, buruk atau enak tidak? nyaman atau tidak itu tergantung perbuatan manusia selama diberi waktu Tuhan selama menjalani episode shopping dan travelingnya di dunia dulu.

Bagi orang yang beriman kepada Tuhan maka kematian itu tidak pernah ada karena yang ada hanya episode kehidupan selanjutnya dan berpindah alam.  Disinilah pentingnya kita memaknai arti dari keabadian, setelah kita banyak belajar dari kematian.  Jika kita resapidan renungkan, kita akan melihat betapa waktu sangat pendek untuk mempersiapkan keabadian itu sendiri. Dengan waktu dan umur yang sangat terbatas maka kita diharapkan untuk memaksimalkan hidup sesuai dengan ajaran-ajaran yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Maka konsep hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari kemarin sebagai guru dan hariesok adalah rahasia dan misteri Tuhan, maka kita sebagai umat yang beriman harus menjalani hidup yang super produktif sesuai dengan ketentuan-ketentuan Tuhan. Super produktif direpresentasikan dengan memaksimalkan amal perbuatan yang kita punyai untuk mendukung keabadian kita di kampung akherat nanti, masalah kita akan di kampung surga atau neraka itu adalah suatu pilihan dan itu semua tergantung bagaimana manusianya menjatuhkan pilihannya untuk tinggal di akherat nanti.

Jika kita belajar atau kuliah di jurusan bisnis misalnya maka sebagai mahsiswa kita akan mendapatkan berbagai macam mata kuliah yang berurusan dengan bisnis. Misal saja manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia, manajemen produksi, manajemen strategi, ekonomi makro & mikro, enterpreneurship dan lain-lain.  Kemudian pada saat kita lulus kita misal saja menjadi seorang eksekutif perusahaan atau bahkan sebagai pengusaha yang sedang berkompetisi dengan perusahaan atau sesama pengusaha dalam memenangkan pertarungan dalam lingkup bisnis tertentu.
Dalam perjalanannya ada kemungkinan kita berhasil atau bahkan mungkin gagal dalam memenangkan pertarungan bisnis ini.  Adakalanya kita kecewa, sedih bahkan bersuka cita dalam memaknai suatu keberhasilan maupun suatu kegagalann dalam hidup.  Boleh saja kita berbangga bahwa kita punya ilmu manajemen yang dalam tataran umum bisa dapat menyelesaikan masalah-masalah yang timbul seputar manajemen perusahaan seperti dengan penggunaan rasio-rasio keuangan untuk mengukur performance keuangan suatu perusahaan misal Quick ratio, activity ratio,. leverage ratio dan lain-lain.  Ada juga demi efektifitas dari design SDM, maka dilakukan assessment dan talent management untuk mengarahkan SDM perusahaan menjadi sumber potensi keberhasilan perusahaan dalam memenangkan kompetisi. Namun sebagai eksekutif atau taruhlah sebagai owner dari perusahaan ini, ada hal yang lebih penting dan urgent untuk dimaknai sebagai konsekuensi logis dari memaksimalkan hari ini sebagai sumber inspirasi manajemen keduniawian yang kita niatkan untuk bekal kitadi kampung akherat. Bagaimanakah kita harus menyikapi fonomena ini?

Perlu diingat bahwa Tuhan memberi cobaan umatnya dengan beberapa tingkatan agar kita meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita. Mulai dari cobaan dan ujian yang paling rendah tingkatan cobaan atau ujian, sampai ke yang tingkat tertinggi sesuai dengan tingkatannya. Bilamana kita sadar bahwa cobaan dan ujian itu tidak mesti yang susah dan menderita tapi Tuhan menguji kita juga dengan kesenangan dan rejeki yang melimpah. Namun jika kita tidak waspada maka kita manusia akan tergelincir juga dalam menjalaninya. Kehilangan jabatan, kedudukan, harta benda bahkan kehilangan orang yang dicintainya, hutang adalah bentuk cobaan yang nyata-nyata harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Lihat betapa cobaan yang kita lihat seperti korban Lumpur Lapindo, baik warga yang kena dampak luberan lumpur maupun pengusaha yang usahanya terendam lumpur dan menurut kabarnya sampai detik ini kerugian usahanya belum diganti rugi oleh Lapindo Brantas inc.

Perlu diingat bahwa sewaktu pengusaha itu mendirikan usaha, maka segala upaya baik materiil maupun moril difokuskan untuk membangun usaha yang nantinya dengan maksud baik pasti akan menyerap tenaga kerja. Bahkan tidak luput hitungan-hitungan yang sudah familiar di didunia bisnis pasti diterapkan dengan harapan untuk sukses dikemudian hari. Namun hitungan dan teori-teori itu tidak mampu mengatasi bencana dan musibah yang menimpanya.  Akankah kita akan berpikir? Kepada saudara-saudaraku yang mengalami musibah dan bencana sabarlah dan bertawakalah, karena hidup ini ada suatu permainan.  Atau dalam Agama Islam disebut bahwa Dunia hanya sebagai Arena ( QS:7/10,7/96).
Jika kita kembali kepada belajar dari kematian, maka bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna, Hanya Allah Swt-lah yang Maha Sempurna. Dengan memaknai kematian maka kita akan selangkah menuju pemikiran tentang keabadian dan kekekalan. Kalau kita beriman dan percaya tentang adanya surga dan neraka, maka hidup cukup menjadi pilihan, kemana kita akan tinggal nanti ? di kampung Surga apa Neraka? Semua berawal dari Nya dan akan kembali kepada-Nya. Setidaknya kematian akan selalu memberikan pelajaran yang sangat berharga dan setidaknya sebagai rumus yang paling ampuh untuk mengendalikan perilaku hidup dan kehidupan itu sendiri. Maka jadilah umat yang beriman dan senantiasa meningkatkan Taqwa kepada-Nya setiap saat.

 

Advertisement

Online Chat

comes_onweb

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

Your IP: 54.167.242.107

Contact

CORRESPONDENCE
Alamanda Tower lt 17 AB,
Thamrin Residences,
Jl. Thamrin Boulevard
Jakarta 10340

CALL :
TEL / FAX:  (021)7522698

CONTACT :
Email : ahoesodo@gmail.com
YM : ahoesodo@yahoo.com

Maaf, tidak melayani konsultasi hukum online